Gilang Dibui 114 Hari Tanpa Dosa, Pakar: Arogansi Penegak Hukum

Gilang Dibui 114 Hari Tanpa Dosa, Pakar: Arogansi Penegak Hukum

Gilang Dibui 114 Hari Tanpa Dosa, Pakar: Arogansi Penegak Hukum

Gilang Dibui 114 Hari Tanpa Dosa, Pakar: Arogansi Penegak Hukum- Gilang Ilham Jaelani (19) harus meringkuk di penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. Usut punya usut, tidak ada satu pun bukti yang menunjukan Gilang terlibat pencurian. Dia hanya disebut-sebut oleh salah satu rekannya.

Tindakan jaksa dan kepolisian dinilai berlebihan. Apalagi tanpa cukup alat bukti untuk menahan Gilang di tingkat kepolisian.

“Profesionalitas jaksa atau kepolisian akan menentukan terjadinya peradilan-peradilan (sesat) yang dipaksakan,” ujar ahli hukum Abdul Fickar Hadjar kepada Detikcom, Senin (24/4/2017).

Gilang yang merupakan pegawai minimarket dituduh terlibat melakukan pembobolan brankas tempatnya bekerja pada 7 September 2013. Uang Rp 5,7 juta raib dan dibagi-bagi oleh ketiga rekannya. Pemilik yang mengetahui kejadian itu langsung melaporkan ke polisi dan segera menindak. Keempatnya langsung dijebloskan ke penjara sejak 9 September 2013 dan diproses dalam berkas terpisah.

INGIN BERMAIN DI SITUS JUDI ONLINE TERPERCAYA UANG ASLI INDONESIA ??
SEGERALAH BERGABUNG DAN DAFTARKAN DIRI ANDA LALU MAIN DAN MENANGKAN JUTAAN RUPIAH SETIAP HARINYA HANYA DI BOSDOMINO.NET

Di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) semuanya terbongkar. Gilang ternyata tidak terbukti terlibat pencurian tersebut. Gilang akhirnya dibebaskan pada 7 Januari 2014. Tapi jaksa tidak terima dan tetap ngotot bila Gilang terlibat pencurian. Tak tanggung-tanggung, Penuntut Umum meminta Gilang untuk dipenjara selama 1 tahun.

“Arogansi para penegak hukum karena merasa gengsi yang kemudian memaksakan sebuah kasus untuk diteruskan, padahal tidak terpenuhinya unsur kejahatan yang disangka atau didakwa,” ucap Fickar.

Menurut Fickar, perkara peradilan semacam ini hanya akan merugikan negara. Karena melakukan sidang bagi orang yang tidak bersalah sejak awal.

“Korban peradilan sesat seperti Gilang hanya akan mengakibatnya terjadinya pelanggaran HAM dan juga merugikan negara dengan menyia-nyiakan waktu serta biaya sidang bagi sesuatu yang tidak bermanfaat,” tutup Fickar.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*